Diposkan pada Tak Berkategori

AYAT JURNAL PENYESUAIAN (AJP)

AYAT JURNAL PENYESUAIAN

Ayat Jurnal Penyesuaian atau yang biasa disingkat dengan AJP adalah jurnal yang dibuat pada akhir periode yang mana bertujuan untuk menyesuaikan saldo – saldo perkiraan/ akun – akun baik itu akun riil (harta, kewajiban, modal) maupun akun nominal (pendapatan dan beban) agar kiranya menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Ayat jurnal penyesuaian dibuat sebelum membuat kertas kerja (worksheet) dan juga Laporan Keuangan.

Pencatatan jurnal penyesuaian dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

  1. Deferal    : Penangguhan pengakuan pendapatan dan beban yang dicatat dalam akun.
  2. Akrual      : Pengakuan atas pendapatan dan beban yang belum dicatat dalam akun.

Pencatatan jurnal penyesuaian pada perusahaan jasa dan perusahaan dagang, pada dasarnya sama, tetapi pada perusahaan dagang, terdapat 8 akun lagi yang perlu disesuaikan dan kedelapan akun ini tidak ada pada perusahaan jasa. Kedelapan akun tersebut adalah sebagai berikut.

  1. PERSEDIAAN BARANG DAGANG (PDB)

Proses pencatatan jurnal penyesuaian pada akun PDB, menggunakan dua metode, yaitu metode ikhtisar Laba/Rugi dan metode Harga Pokok Penjualan (HPP).

  • Metode Ikhtisar L/R

Pencatatan penyesuaian persediaan barang dagang dengan metode ikhtisar L/R, hanya menyesuaikan akun PDB. Pokoknya, kalau disuruh buat jurnal penyesuaian untuk akun PDB dengan metode ikhtisar L/R, ingat aja deh yang namanya “IPPI”. Nah, itu adalah singkatan dari awalan huruf pada nama akunnya.

Lanjuut, contoh :

Pada akhir periode, tercatat saldo persediaan barang dagang awal sebesar Rp. 7.000.000,- dan persediaan barang dagang akhir sebesar Rp. 8.500.000,-.

  • Penyesuaian :

Ikhtisar L/R                                                    Rp. 7.000.000,-

Persediaan barang dagang awal                                                   Rp. 7.000.000,-

Persediaan barang dagang awal               Rp. 8.500.000,-

Ikhtisar L/R                                                                                        Rp. 8.500.000,-

  • Metode Harga Pokok Penjualan (HPP)

Nah, kalau menggunakan metode HPP, akun – akun yang disesuaikan bukan hanya PDB awal dan akhir ya, tetapi ada 4 akun lagi yang harus disesuaikan, Apa aja ya? Well, keempat akun itu adalah pembelian, beban angkut pembelian, retur pembelian & pengurangan harga (PH) dan potongan pmbelian. Oke, contoh :

Diketahui persediaan barang dagang awal sebesar Rp. 6.500.000,- , pembelian sebesar Rp. 35.000.000,- ,retur pembelian & PH sebesar Rp. 650.000,- , beban angkut pembelian sebesar Rp. 250.000,- ,potongan pembelian sebesar Rp. 200.000,- dan persediaan barang dagang akhir sebesar Rp. 10.000.000,-.

  • Penyesuaiannya :

HPP                                                                Rp. 6.500.000,-

Persediaan barang dagang awal                                                   Rp. 6.500.000,-

HPP                                                                Rp. 35.000.000,-

Pembelian                                                                                         Rp. 35.000.000,-

HPP                                                                Rp.  250.00,-

Beban angkut pembelian                                                               Rp.  250.000,-

Retur pembelian & PH                                Rp.  650.000,-

HPP                                                                                                    Rp.  650.000,-

Potongan pembelian                                   Rp. 200.000,-

HPP                                                                                                    Rp.  200.000,-

Persediaan barang dagang akhir              Rp. 10.000.000,-

HPP                                                                                                    Rp. 10.000.000,

2. PERLENGKAPAN

Perlengkapan itu merupakan kelompok harta/ aktiva yang sifatnya lancar, atau biasa disebut dengan harta lancar / aktiva lancar/ current assets. Nah, kalau disuruh buat jurnal penyesuaian untuk akun perlengkapan, yang perlu diingat itu ialah, yang dicatat itu adalah nilai/ nominal perlengkapan yang digunakan atau sudah dipergunakan.

Lanjuuut, contoh :

Pada tanggal 1 Juni 2012, saldo akun perlengkapan berjumlah Rp. 3.500.000,-. Pada akhir periode, perlengkapan yang tersisa berjumlah Rp. 500.00,-.

Penyelesaian :

  • Penjelasan

INGAT ! Yang dicatat itu adalah nominal perlengkapan yang sudah terpakai. Jadi, berdasarkan soal di atas, untuk mengetahui nominal perlengkapan yang sudah terpakai, adalah dengan cara mengurangkan saldo akun perlengkapan awal dengan saldo akun perlengkapan yang tersisa.

  • Perhitungan

Rp. 3.500.000,- – Rp. 500.000,- = Rp. 3.000.000,-

Nah, Rp. 3.000.000,- inilah yang dicatat. Understand- kah?

  • Penyesusaian

Beban perlengkapan                       Rp. 3.000.000,-

Perlengkapan                                                                       Rp. 3.000.000,-

3.  BEBAN DIBAYAR DIMUKA

Biaya-biaya yang belum merupakan kewajiban perusahaan untuk membayarnya pada periode yang bersangkutan, tapi perusahaan sudah membayarnya terlebih dahulu. Karena jumlah yang dibayarkan tersebut belum merupakan beban perusahaan untuk periode yang bersangkutan, maka jumlah yang telah dibayarkan tersebut merupakan uang muka.

Nah, nama lain dari beban dibayar dimuka itu adalah persekot beban atau premi beban, lebih singkat dan mudah diingat. Nah, akun persekot beban ini dapat dicatat sebagai harta dan juga beban. Apa bedanya ya ? Well, I’ll explain it.

Harta

Kalau dicatat sebagai harta, berarti pada neraca saldo awal perusahaan, akun beban dibayar dimuka ini dicatat sebagai harta. Nah, loh, gimana membedakannya? Ingat ya. Tidak ada penulisan beban jika dicatat sebagai harta. Contohnya : Asuransi dibayar dimuka, Premi asuransi, Persekot asuransi. Tuh, kan bener, gak ada kata – kata beban disitu. Nah, jika akun persekot beban dicatat sebagai sebagai harta, maka nominal yang dicatat pada jurnal penyesuaiannya adalah nominal beban

Beban

Nah, kalau dicatat sebagai beban, berarti pada neraca saldo awal perusahaan, akun beban dibayar dimuka ya dicatat sebagai beban. Namanya aja juga udah beban, berarti ada kata – kata bebannya dong, so pastee. Contohnya : Beban asuransi, beban iklan, beban gaji karyawan,…. beban hidup #ehhh becanda.. :p. Nah, jika akun persekot beban dicatat sebagai sebagai beban, maka nominal yang dicatat pada jurnal penyesuaiannya adalah nominal harta.

Okee, contoh :

Pada tanggal 1 September 2012, dibayar sewa gedung sebesar Rp. 3.000.000,- untuk masa satu tahun. Sewa yang telah menjadi beban selama 2012 adalah selama empat bulan. (Nah, btw tau gak dari mana asal empat bulan ini?, hehehe, caranya gini )

1 September    –   30 September           = 1 bulan.

1 Oktober         –   31 Oktober                   = 1 bulan.

1 November     –   30 November             = 1 bulan.

1 Desember      –   31 Desember             = 1 bulan.

Penyelesaian :

Sewa yang telah menjadi beban, artinya sewa yang telah terpakai atau telah diperguakan.

  • 4 x (Rp. 3.000.000,- : 12 (jumlah bulan dalam setahun)) = Rp. 1.000.000,-

Sewa yang masih menjadi harta, artinya bahwa perusahaan masih memiliki sewa yang belum terpakai.

  • Rp. 3.000000,- – Rp. 1.000.000,- = Rp. 2.000.000,-

Maka, jurnal penyesuaiannya akan menjadi seperti berikut :

  • Dicatat sebagai harta : maka yang dicatat adalah nominal beban.

Beban sewa                                         Rp. 1.000.000,-

Sewa dibayar dimuka                                                             Rp. 1.000.000,-

  • Dicatat sebagai beban : maka yang dicatat adalah nominal harta.

Sewa dibayar dimuka                         Rp. 2.p00.000,-

Beban sewa                                                                             Rp. 2.000.000,-

4.  PENDAPATAN DITERIA DIMUKA

Nah, pendapatan diterima diimuka ini adalah pendapatan yang diterima lebih dahulu atas pembayaran transaksi yang belum dilakukan kepada pelanggan. Nama lain dari akun yan satu ini adalah persekot pendapatan, ataupun prei pendapatan. Nah, jurnal penyesuaian untuk persekot pendapatan ini dapat dicatatsebagai utang dan juga pendapatan.

Utang

Well, kalau akun persekot pendapatan ini dicatat sebagai utang, artinya gini bro, perusahaan itu merasa bahwa persekot pendapatan ini merupakan utang bagi perusahaan, bagaimana tidak? Secara, perusahaan sudah menerima uang dari pelanggan, tapi perusahaan itu sendiri belum ngasih feedback sama pelanggan itu, jadi udah pasti hal ini merupakan utang bagi perusahaan tersebut. Contoh penulisan untuk akun persekot pendapatan yang dicatat sebagai utang adalah : Sewa diterima dimuka, persekot pendapatan dan juga premi pendapatan sewa.

Pendapatan

Nah, kalau akun persekot pendapatan dicatat sebagai pendapatan, artinya begini, perusahaan itu menganggap bahwa persekot pendapatan yang diberikan oleh peanggan itu adaah tetap pendapatan untuk perusahaan itu. Nah, otomatis penulisan untuk akun persekot pendapatan ini berbau dengan pendapatan. Contohnya : Pendapatan sewa.

Okkeehh, contooh :

Pada tanggal 1 Oktober 2012, diterima pembayaran sewa gedung sebesar Rp. 6.000.000,- untuk masa satu tahun.

Penyelesaian :

Jika dicatat sebagai utang.

  • Transaksi ini dicatat sebagai utang pendapatan, yaitu :

Kas                                                      Rp. 6.000.000,-

Sewa diterima dimuka                                                        Rp. 6.000.000,-

  • Jumlah bulan yang merupakan perhitungan sebagai utang adalah :

Dari    : 1 Oktober 2012        –    31 Desember 2012           = 3 bulan.

  • Maka, pencatatan penyesuaian sewa pada akhir periode (31 Desemebr 2012) adalah :

3 x (Rp. 6.000.000,- : 12 (jumlah bulan dalam setahun)) = Rp. 1.500.000,-

Jika dicatat sebagai pendapatan.

  • Transaksi ini dicatat sebagai utang pendapatan, yaitu :

Kas                                                      Rp. 6.000.000,-

Pendapatan sewa                                                                Rp. 6.000.000,-

  • Jumlah bulan yang merupakan perhitungan sebagai pendapatan adalah :

Dari    : 1 Januari 2013          –    31 September 2013         = 9 bulan.

  • Maka, pencatatan penyesuaian sewa pada akhir periode (31 Desemebr 2012) adalah :

9 x (Rp. 6.000.000,- : 12 (jumlah bulan dalam setahun)) = Rp. 4.500.000,-

  • Penyesuaian

Dicatat sebagai utang, maka yang dicatat adalah nominal utang.

Sewa diterima dimuka                    Rp. 1.500.000,-

Pendapatan sewa                                                                Rp. 1.500.000,-

Dicatat sebagai pendapatan, maka yang dicatat adalah nominal pendapatan.

Pendapatan sewa                            Rp. 4.500.000,-

Sewa diterima dimuka                                                        Rp. 4.500.000,-

5. BEBAN YANG MASIH HARUS DIBAYAR

Beban yang masih harus dibayar adalah beban yang masih harus dikeluarkan oleh perusahaan pada akhir periode. Naah, nama lain dari akun yang satu ini adalah, Utang beban, logika kan? Secara, perusahaan itu punya beban yang masih harus dibayar (utang). Otomatis, hal ini akan menambah beban pada periode berikutnya..

Oke, seep, contooh :

Sebuah perusahaan mempekerjakan empat 5 pekerja dengan upah @Rp. 50.000,- per hari. Upah dibayarkan setiap hari Sabtu untuk masa enam hari kerja. Pembayaran upah terakhir dilakukan pada hari Sabtu tanggal 29 Desember 2012. Beban upah yang masih harus dibayar pada tanggal 31 Desember 2012 adalah satu hari, yaitu Senin, 31 Desember 2012.

Penyelesaian :

  • Penjelasan

Nah, pembayaran upah kan setiap hari Sabtu tuh untuk masa kerja enam hari, dari hari Senin s.d Sabtu. Eehh, rupanya akhir tahun alias tanggal 31 Desember 2012 jatuh di hari Senin. Nah, otomatis yang satu hari ini, dibebankan pada periode tahun 2013-nya. Loh, kenapa? Kan nanggung?. Memang sih, bener nanggung, tapi untuk hari Senin itu tidak dapat dilakukan pembayaran upah, karena, kan pebayaran upah sudah ditetapkan hari Sabtu. Jadii… ya harus hari sabtu deh dibayarkan. Begitu….. J

  • Perhitungan

5 (pekerja) x 1 (hari) x Rp. 50.000,-  = Rp. 250.000,-

 

  • Penyesuaiannya

Beban gaji                             Rp. 250.000,-

Utang gaji                                                                  Rp. 250.000,-

 

6. PENDAPATAN YANG MASIH HARUS DITERIMA

Pendapatan yang masih harus diterima merupakan pendapatan yang masih akan diterima perusahaan akibat dari pelanggan yang belum membayar utang nya. Nah, ecek – eceknya pelanggan perusahaan itu masih utang, jadi bagi perusahaan, hal ini disebut dengan piutang. So… nama lain dari akun ini adalah piutang pendapatan.

Seep, contoh :

Pada akun piutang pendapatan, tercatat nominl sebesar Rp. 1.000.000,-

Penyelesaian :

Piutang pendapatan                       Rp. 1.000.000,-

Pendapatan                                                                          Rp. 1.000.000,-

7. PENYUSUTAN

Penyusutan adalah kerugian yang ditanggung oleh perusahaan atas penuruna nilai aktiva tetap. Contohnya : kendaraan, gedung, peralatan, mesin, dll. Untuk apa sih disusutkan? Nah, penyusutan itu berguna untuk mengetahui nilai ekonomis dari aktiva tetap yang sebenarnya.

Okee, contooh :

Suatu perusahaan menetapkan penyusutan 5 % per tahun atas kendaran yang bernilai Rp. 100.000.000,-.

 

Penyelesaian :

  • Perhitungan

5 % x Rp. 100.000.000,- = Rp. 5.000.000,-

 

  • Penyesuaian

Beban penyusutan kendaraan                   Rp. 5.000.000,-

Akumulasi penyusutan kendaraan                                                Rp. 5.000.000,-

8. PIUTANG TIDAK TERTAGIH

Piutang tidak tertagih merupakan resiko yang dialami perusahaan akibat tidak tertagih-nya piutang dagang. Nah, transaksi piutang tidak tertagih ini, diperlakukan sebagai beban persahaan. Gimana nggak? Kan intinya perusahaan itu jadi nombo’in kan ? hehehehe.

Seep, contoh :

Suatu perusahaan menetapkan 3 % sebagai piutang tidak tertagih terhadap piutang dagang sebesar Rp. 18.000.000,-.

Penyelesaian :

  • Perhitungan

3 % x Rp. 18.000.000,-  = Rp. 540.000,-

  • Penyesuaian

Kerugian piutang                             Rp. 540.000,-

Cadangan kerugian piutang                                              Rp. 540.000,-

Diposkan pada Akuntansi Biaya

CARA MENJURNAL PERSEDIAAN

Cara Menjurnal Persediaan.  Persediaan adalah salah satu akun atau perkiraan yang dimiliki oleh perusahaan dagang dan manufaktur. Namun setiap kali terjadi transaksi penjualan atau pembelian barang yang notabenenya adalah persediaan barang, tidak pernah sama sekali di libatkan akun perkiraan dalam jurnal umum.

Biasanya persediaan baru di adakan perjurnalan pada saat akhir preiode siklus akuntansi ketika melakukan penyesuaian.

Mari kita lihat contoh soal dari persediaan.

  1. Neraca saldo menunjukkan saldo Persediaan adalah sebesar Rp. 152.450.000.
  2. Selama satu priode terjadi penjualan sebesar Rp. 351.220.000
  3. Juga terjadi pembelian barang sebesar 245.550.000
  4. Menurut kartu stock menunjukkan sisa persediaan yang telah di nominalkan dengan harga perolehan barang senilai Rp. 168.500.000

Buatlah jurnal persediaan untuk kasus tersebut.

Jawaban Jurnal-nya :

  • Persediaan Barang (Debet) Rp. 245.550.000
  • Pembelian Barang (Kredit) Rp. 245.550.000
  • Harga Pokok Penjualan (Debet) Rp. 229.500.000
  • Persediaan Barang Dagang (Kredit) Rp. 229.500.000

Penjelasan :

Persediaan barang awal + Pembelian = Persediaan barang

152.450.000 + 245.550.000 = 398.000.000

Persediaan – Persediaan Barang Akhir = Harga Pokok Penjualan (HPP)

398.000.000 – 168.500.000 = 229.500.000

Mengapa Rp. 229.500.000 yang di jadikan sebagai jurnal. Tentu karena yang kita inginkan tentunya adalah bahwa saldo persediaan dalam buku besar dan neraca adalah nilai dari Persediaan akhir sebesar Rp. 168.500.000. Atau mungkin lebih jelas bila di buatkan rumus sepeti ini :

Persediaan Awal + Pembelian – HPP = Persediaan Akhir

152.450.000 + 245.550.000 – 229.500.000 = 168.500.000

Atau dengan rumus atas dasar ayat jurnal persediaan diatas adalah :

Saldo awal (debet) + jurnal 1 (debet) – jurnal 2 (kredit) = persediaan akhir (debet).

Maka dari penjurnalan tersebut tentu akan di dapatkan hasil saldo persediaan adalah Rp. 168.500.000 dalam posisi debet sesuai petunjuk soal no. 4 di atas. Bagaimanapun kita membolak-balikkan rumus di atas hasilnya akan tetap sama. Dan soal nomor 2 tidaklah di gunakan, karena penjualan memang mempengaruhi persediaan tetapi tidak berkaitan dengan perhitungan persediaan. Pengganti penjualan untuk persediaan adalah kartu stock.

Diposkan pada Akuntansi Biaya

CARA MENGHITUNG HARGA POKOK PRODUKSI

Harga Pokok Penjualan (HPP) merupakan salah satu elemen penting dari laporan laba-rugi suatu perusahaan dagang. Yang dimaksud dengan HPP adalah seluruh biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh barang yang dijual atau harga perolehan dari barang yang dijual. Apabila perusahaan akan menyusun laporan keuangan khususnya laporan laba-rugi, maka harus dilakukan perhitungan HPP yang terjadi dalam periode berjalan. Perhitungan HPP yang tepat dan akurat mempengaruhi nilai laba yang didapatkan perusahaan atau kerugian yang ditanggung perusahaan. Oleh karena itu, semakin tepat perhitungan HPP yang dilakukan akan menghasilkan laporan laba rugi perusahaan yang semakin akurat.

Unsur Pembentuk HPP

Dalam perhitungan HPP, ada beberapa unsur-unsur pembentuk HPP yang perlu dipahami. Unsur-unsur tersebut antara lain persediaan awal, persediaan akhir, pembelian bersih barang dagangan dan biaya-biaya selama proses produksi. Penjelasan lebih detail dari unsur-unsur tersebut bisa disimak di bawah ini:

  1. Persediaan awal Barang dagangan
    Persediaan awal barang dagangan merupakan persediaan barang dagangan yang tersedia pada awal suatu periode atau tahun buku berjalan. Saldo persediaan awal perusahaan dagang terdapat pada neraca saldo periode berjalan atau pada neraca awal perusahaan atau laporan neraca tahun sebelumnya.
  2. Persediaan ahir barang dagangan (end inventory)
    Persediaan ahir barang dagangan merupakan persediaan barang-barang pada ahir suatu periode atau tahun buku berjalan. Saldo persediaan ahir perusahaan akan diketahui dari data penyesuaian perusahaan pada ahir periode.
  3. Pembelian bersih
    Pembelian bersih merupakan seluruh pembelian barang dagangan yang dilakukan perusahaan baik pembelian barang dagangan secara tunai maupun pembelian barang dagangan secara kredit, ditambah dengan biaya angkut pembelian tersebut serta dikurangi dengan potongan pembelian dan retur pembelian yang terjadi.
  4. Biaya Bahan Baku
    Bahan baku merupakan dasar yang akan digunakan untuk membentuk bagian yang menyeluruh menjadi produk jadi. Bahan baku yang digunakan untuk memproduksi dapat diperoleh melalui pembelian lokal, impor atau dari pengolahan sendiri. Biaya bahan baku meliputi harga pokok semua bahan yang dapat diidentifikasi dengan pembuatan suatu jenis produk, dengan mudah dapat ditelusuri atau dilihat perwujudannya di dalam produk selesai. Biaya bahan baku memiliki bagian yang signifikan dari total biaya suatu produk.
  5. Biaya Tenaga Kerja Langsung
    Tenaga kerja merupakan kegiatan fisik yang dilakukan oleh karyawan untuk mengolah suatu produk. Biaya tenaga kerja langsung meliputi biaya-biaya yang berkaitan dengan penghargaan dalam bentuk upah yang diberikan kepada semua tenaga kerja yang secara langsung ikut serta dalam pengerjaan produk yang hasilnya kerjanya dapat ditelusuri secara langsung pada produk dan upah yang diberikan merupakan bagian yang besar dalam memproduksi produk.
  6. Biaya Overhead
    Pada umumnya dalam suatu perusahaan biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung merupakan biaya produksi langsung. Semua biaya selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung yang berhubungan dengan produksi adalah biaya produksi tidak langsung. Istilah ini sesuai dengan sifat biaya overhead yang tidak dapat atau sulit untuk ditelusuri secara langsung kepada produk atau aktivitas-aktivitas pekerjaan. Biaya tidak langsung ini terkumpul dalam suatu kategori yang disebut biaya overhead pabrik (BOP) dan membutuhkan suatu proses alokasi yang adil untuk tujuan perhitungan harga pokok produksi.

Menghitung HPP

Secara sederhana, rumus untuk menghitung HPP perusahaan dagang, yaitu

HPP = Persediaan barang awal – persediaan barang akhir

Namun bagi perusahaan manufaktur untuk mendapatkan angka yang akurat dari HPP harus melalui tahapan perhitungan yang benar dan tepat. Adapun tahapan perhitungan HPP adalah:

Tahap 1: Menghitung Bahan Baku Yang Digunakan
Rumus untuk menghitung bahan baku yang digunakan adalah
Bahan Baku Yang Digunakan = Saldo awal Bahan Baku + Pembelian Bahan Baku – Saldo Akhir Bahan Baku

Tahap 2: Menghitung Biaya Produksi
Rumus untuk menghitung biaya produksi adalah
Total biaya produksi = Bahan baku yang digunakan + biaya tenaga kerja langsung + biaya overhead produksi

Tahap 3: Menghitung Harga Pokok Produksi
Rumus untuk menghitung Harga Pokok Produksi adalah
Harga Pokok Produksi = Total biaya produksi + saldo awal persediaan barang dalam proses produksi – saldo akhir persediaan barang dalam proses produksi

Tahap 4: Menghitung HPP
Rumus Menghitung HPP adalah
HPP = Harga pokok produksi + Persediaan barang awal – persediaan barang akhir

Contoh Menghitung HPP

PT Karya Tangan Abadi adalah perusahaan yang bergerak dibidang manufaktur pembuatan spare part motor. Pada awal bulan Juli, PT Karya Tangan Abadi memiliki persediaan bahan baku mentah sebesar Rp 50.000.000,-, bahan setengah jadi sebesar Rp. 100.000.000,- dan persediaan spare part siap jual sebesar Rp 150.000.000,-. Untuk proses produksi spare part di bulan Juli, PT Karya Tangan Abadi membeli persediaan bahan baku sebesar Rp 750.000.000,- dengan biaya pengiriman Rp 20.000.000,-. Selama proses produksi, terdapat biaya pemeliharaan bahan mesin sebesar Rp 10.000.000,-. Pada akhir bulan juli terdapat sisa penggunaan bahan baku mentah sebesar Rp 80.000.000,-, sisa bahan setengah jadi sebesar Rp 10.000.000,- dan sisa sparepart siap jual sebesar Rp 25.000.000,-. Berapakah HPP dari PT Karya Abadi?

Dari contoh soal di atas, diketahui bahwa PT Karya Tangan Abadi adalah perusahaan manufaktur. Oleh karena itu, untuk menghitung HPP diperlukan 4 tahap menghitung HPP seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Tahap 1: Menghitung Bahan Baku Yang Digunakan
Rumus untuk menghitung bahan baku yang digunakan adalah
Bahan Baku Yang Digunakan = Saldo awal Bahan Baku + Pembelian Bahan Baku – Saldo Akhir Bahan Baku
50.000.000 + (750.000.000 + 20.000.000) – 80.000.000 = 740.000.000

Tahap 2: Menghitung Biaya Produksi
Rumus untuk menghitung biaya produksi adalah
Total biaya produksi = Bahan baku yang digunakan + biaya tenaga kerja langsung + biaya overhead produksi
740.000.000 + 10.000.000 = 750.000.000

Tahap 3: Menghitung Harga Pokok Produksi
Rumus untuk menghitung Harga Pokok Produksi adalah
Harga Pokok Produksi = Total biaya produksi + saldo awal persediaan barang dalam proses produksi – saldo akhir persediaan barang dalam proses produksi
750.000.000 + 100.000.000 – 10.000.000 = 840.000.000

Tahap 4: Menghitung HPP
Rumus Menghitung HPP adalah
HPP = Harga pokok produksi + Persediaan barang awal – persediaan barang akhir
840.000.000 + 150.000.000 – 25.000.000 = 965.000.000

Jadi HPP dari PT Karya Abadi pada bulan Juli adalah Rp 965.000.000,-

Diposkan pada Akuntansi Biaya

PENGERTIAN, FUNGSI, DAN KLASIFIKASI AKUNTANSI BIAYA

Akuntansi Biaya (Cost Accounting)

Akuntansi Biaya merupakan salah satu bagian dari bidang akuntansi meliputi kegiatan proses pencatatan dan monitoring seluruh aktifitas biaya dan menyajikan informasi tersebut dalam suatu laporan.

Perusahaan dalam menjalankan seluruh aktifitas untuk memperoleh keuntungan atau laba tidak bisa terlepas dari biaya.

Hal utama yang perlu diantisipasi serta direncanakan dengan baik yaitu dengan melakukan efisiensi terhadap seluruh biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan dengan pengendalian anggaran yang telah direncanakan.

Pengertian dan Definisi Akuntansi Biaya oleh Para ahli ekonomi

  1. R. A. Supriyono,  Akuntansi biaya adalah salah satu cabang akuntansi yang merupakan alat manajemen untuk memonitor dan merekam transaksi biaya secara sistematis serta menyajikan informasi biaya dalam bentuk laporan biaya.
  2. Mulyadi, Akuntansi Biaya ialah proses pencatatan, penggolongan, peringkasan dan penyajian biaya pembuatan dan penjualan produk jasa dengan cara-cara tertentu serta penafsiran terhadapnya.
  3. Abdul Halim, Akuntansi Biaya adalah akuntansi yang membicarakan tentang penentuan harga pokok (cost) dari suatu produk yang diproduksi atau dijual di pasar baik untuk memenuhi pesanan dan pemesan maupun untuk menjadi persediaan barang dagangan yang akan dijual.
  4. Schaum, Akuntansi biaya adalah suatu prosedur untuk mencatat dan melaporkan hasil pengukuran dari  biaya pembuatan barang atau jasa. Fungsi utama dari Akuntansi Biaya: Melakukan akumulasi  biaya untuk penilaian persediaan dan penentuan pendapatan
  5. Carter dan Usry, Akuntansi biaya adalah penghitungan biaya dengan tujuan untuk aktivitas perencanaan dan  pengendalian, perbaikkan kualitas dan efisiensi, serta pembuatan keputusan yang bersifat rutin maupun strategis.

Fungsi Akuntansi Biaya

  1. Penentuan Harga Pokok Produksi atau Jasa (Cost of Good Sold), bagian tugas utama dari akuntansi biaya adalah mencatat, menggolongkan, monitoring dan meringkas seluruh komponen biaya yang berhubungan dengan proses produksi, dari data historis ini dijadikan acuan pihak manajemen dalam penentuan harga pokok produksi.
  2. Perencanaan dan Pengendalian Biaya (Forcasting and Controlling),  atas dasar data historis dari laporan keuangan tentang seluruh aktifitas biaya dapat dijadikan acuan dalam membuat perencanaan anggaran (Budgeting) kemudian melakukan monitoring terhadap penyimpangan biaya atas anggaran yang telah ditetapkan sehingga meningkatkan efisiensi biaya perusahaan.

Klasifikasi Beban dalam Akuntansi Biaya

Klasifikasi biaya merupakan proses pengelompokan biaya berdasarkan tujuan dari informasi biaya yang disajikan.

Untuk memudahkan dalam melakukan pencatatan biaya dan menyusun laporan keuangan, serta memberikan gambaran informasi yang akurat kepada pihak manajemen, maka komponen biaya dikelompokkan dalam beberapa kelompok akun dengan klasifikasi sebagai berikut :

  1.  Berdasarkan Fungsi Pokok dari Aktifitas Perseroan.
  1. Biaya Produksi (Production Cost) atau Biaya Harga Pokok Produksi (Cost of Good Sold) meliputi : Biaya Bahan Baku (Material), Tenaga Kerja Langsung / Buruh (Direct Labour), dan Biaya Operasional (Direct Overhead).
  2. Biaya Pemasaran (Marketing Expenses) : Biaya Promosi dan Iklan.
  3. Biaya Administrasi dan Umum (General Administration Expenses) : Biaya Gaji Karyawan, Overhead Kantor, dan biaya terkait lainnya.
  1.  Berdasarkan Kegiatan atau volume Produksi.
  1. Biaya Variabel (Variable Cost), Komponen biaya proporsional sesuai mengikuti volume produksi yang dihasilkan. Contoh Biaya Bahan Baku dan Overhead Langsung.
  2. Biaya Tetap (Fixed Cost), Biaya yang tidak dipengaruhi oleh volume produksi. Contoh Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labour), walaupun volumenya disesuaikan dengan kapasitas produksi namun pembayarannya bersifat lumpsum per bulan.
  1.  Berdasarkan Objek yang Dibiayai.
  1. Biaya Langsung (Direct Cost), Biaya yang dapat diidentifikasi langsung dengan objeknya. Contoh : Biaya Tenaga Kerja Langsung (Direct Labour), dan Biaya Bahan Baku (Direct Material)
  2. Biaya Tidak Lansung (Indirect Cost), Biaya yang tidak dapat diidentifikasi langsung dengan objeknya. Contoh : Biaya Overhead Pabrik (Direct Overhead).
  1.  Berdasarkan Pembebanan Periode Akuntansi.
  1. Biaya Investasi (Capital Expenditure), Biaya yang memberikan masa manfaat pada beberapa periode akuntansi. Contoh Mesin Pabrik biaya depresiasi penyusutannya selama 5 tahun.
  2. Biaya Pengeluaran Penghasilan (Revenue Expenditure), Biaya yang dikeluarkan memberikan masa manfaat hanya pada satu periode akuntansi. Contoh : Biaya Overhead Pabrik.
Diposkan pada Pengertian Akuntansi

PENGERTIAN AKUNTANSI MENURUT PARA AHLI

Beberapa ahli menganggap bahwa makna akuntansi sebagai salah satu seni (keahlian), seni di estimasi, korespondensi dan menerjemahkan ataupu menguraikan latihan anggaran. Sebuah pemahaman yang lebih mendalam dari akuntansi adalah estimasi gerakan, estimasi, interpretasi, atau menawarkan kepercayaan pada informasi dan data yang akan membantu atau membantu ahli keuangan, brooker, direktur, ototritas biaya, kepala lain sehingga usaha, asosiasi, atau yayasan yang berbeda memiliki kapasitas untuk membuat tugas kekuatan aset. akuntansi rasa dengan cara ini, spesialis moneter dan akuntansi telah ditandai kontras dan lebih persamaan.

Berikut beberapa pengertian akuntansi menurut para ahli :

  1. Definisi akuntansi yang dikemukakan oleh ABP Statement No. 4 dalam Smith Skousen (1995 : 3), akuntansi adalah suatu aktivitas jasa. Fungsinya adalah menyediakan informasi kuantitatif, terutama yang bersifat dalam pengambilan keputusan ekonomis dalam menetapkan pilihan-pilihan yang logis diantara berbagai tindakan alternatif.
  2. Pengertian akuntansi menurut American  Insitute of Certified Public Accounting(AICPA) dalam Harahap (2003) mendefinisikan akuntansi sebagai seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan cara tertentu dalam ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya.
  3. American Acounting Association (AAA) dalam Soemarso SR. (1996 : 5) mendefinisikan akuntansi sebagai proses pengidentifikasian, pengukur dan melaporkan informasi ekonomi untuk memungkinkan adanya penilaian-penilaian dan keputusan yang jelas dan tegas bagi mereka yang menggunakan informasi tersebut.
  4. Pengertian Akuntansi Menurut Charles T. Horngren, dan Walter T.Harrison(Horngren Harrison,2007:4) menyatakan bahwa: Akuntansi adalah sistem informasi yang mengukur aktivitas bisnis, memproses data menjadi laporan, dan mengkomunikasikan hasilnya kepada para pengambil keputusan.
  5. Pengertian akuntansi menurut Warrendkk (2005:10) menjelaskan bahwa: “secara umum, akuntansi dapat didefinisikan sebagai sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi perusahaan”.
  6. Pengertian akuntansi menurut Littleton(Muhammad, 2002:10) mendefinisikan: “tujuan utama dari akuntansi adalah untuk melaksanakan perhitungan periodik antara biaya (usaha) dan hasil (prestasi). Konsep ini merupakan inti dari teori akuntansi dan merupakan ukuran yang dijadikan sebagai rujukan dalam mempelajari akuntansi.”
  7. Pengertian akuntansi menurut Rudianto mendefenisikan bahwa akuntansi adalah sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi suatu badan usaha.
  8. Kemudian Suparwoto L (1990 : 2) mendefinisikan akuntansi sebagai suatu system atau tehnik untuk mengukur dan mengelola transaksi keuangan dan menyajikan hasil pengelolaan tersebut dalam bentuk informasi kepada pihak-pihak intern dan ekstern perusahaan. Pihak ekstern disini terdiri dari investor, kreditur pemerintah, serikat buruh dan lain-lain.
  9. Definisi akuntansi menurut Arnold: Definisi akuntansi dipandang sebagai suatu sistem untuk menyediakan informasi (terutama keuangan) kepada siapa saja yang harus membuat keputusan dan mengendalikan penerapan keputusan tersebut.
  10. Definisi akuntansi menurut West Churman:“sebagai pengalaman tertulis yang berguna untuk pengambilan keputusan.
Diposkan pada Persamaan Dasar Akuntansi

PERSAMAAN DASAR AKUNTANSI

Sesuai dengan konsep kesatuan usaha yang terpisah (business entity), diadakan pemisahan antara aktiva atau kekayaan yang dimiliki entitas bisnis dan aktiva yang dimilik pribadi pemiliknya. Aktiva yang dimiliki entitas bisnis dapat berasal dari pemilik perusahaan ataupun pihak lain. Hubungan antara aktiva, utang, dan modal dapat dinyatakan dalam suatu persamaan secara matematis yang disebut persamaan dasar akuntansi (fundamental accounting equation). Persamaan akuntansi dapat dijadikan pedoman dalam menganalisis transaksi yang terjadi pada suatu entitas bisnis agar dapat dicatat pada unsur-unsur pencatatan akuntansi.

Pada perusahaan baru berdiri, ada setoran aktiva dari pemilik dan atau dari pihak luar, sehingga dapat disusun persamaan akuntansi seperti berikut.

Persamaan Akuntansi (I)

Aktiva = Pasiva

(Assets) = (Equities)

Sebagaimana diketahui pasiva (equities), sebagai sumber aktiva atau hak kepemilikan atas aktiva dapat dibedakanmenjadi dua, yaitu berasal dari pemilik perusahaan atau disebut ekuitas dan dari pihak luar disebut kewajiban, sehingga persamaan akuntansi dapat dirumuskan sebagai berikut.

Persamaan Akuntansi (II)

Aktiva = Kewajiban + Ekuitas

(Assets) = (Liabilities) + (Owner’s Equity)

Selama periode tertentu, perusahaan melakukan kegiatan usaha yang tujuan mencari laba, sehingga persamaan akuntansinya dapat dirumuskan sebagai berikut.

Persamaan Akuntansi (III)

Aktiva = Kewajiban + Ekuitas + Laba

(Assets) = (Liabilities) + (Owner’s Equity) + (Gains)

Untuk mendapatkan laba, perusahaan harus memperoleh penghasilan dari kegiatan usaha yang dilakukan. Perusahaan harus mengeluarkan beban atau mengorbankan aktiva untuk memperoleh pendapatan. Pada perusahaan perseorangan atau firma, akan dijumpai transaksi pengguna aktiva perusahaan untuk keperluan pribadi pemilik (prive), sehingga persamaan akuntansinya dapat dirumuskan sebagai berikut.

Persamaan Akuntansi (IV)

Aktiva = Kewajiban + { Ekuitas + Pendapatan – Beban – Prive }

(Assets) = (Liabilities) + (Owner’s Equity) + (Revenues) – (Expense) – (Drawing)

Unsur pendapatan, beban, dan prive merupakan unsur pembantu dari ekuitas. Pada akhir periode, unsur tersebut digabungkan menjadi satu dengan unsur ekuitas. Persamaan akuntansinya dapat digambarkan sebagai berikut.

Persamaan Akuntansi (V)

Aktiva = Kewajian + Ekuitas

(Assets) = (Liabilities) + (Owner’s Equity)

Catatan :

  1. Sebagai catatan, perlu diperhatikan bahwa dalam persamaan akuntansi, unsur pendapatan, beban, dan prive, berkaitan dengan bertambah atau berkurangnya ekuitas.
  2. Pada persamaan akuntansi unsur beban dan prive berada di sisi kanan dengan tanda minus (-).
  3. Beban dn prive dengan tanda minus (-) tidak boleh dipindah pada sisi kiri dengan diberi tanda plus (+). Hal ini menyebabkan persamaan akuntansi akan kehilangan makna dan akan berubah menjadi persamaan matematika.

Berdasarkan rumusan persamaan akuntansi diatas, transaksi keuangan yang terjadi dalam entitas bisnis dapat dianalisis dn dicatat dengan memerhatikan pola persamaan akuntansi. Transaksi keuangan yang terjadi dalam suatu entitas bisnis dibukukan dengan sistem pembukuan berpasangan/ganda (double entry bookkeeping). Pembukuan berpasangan diartikan bahwa pencatatan transaksi keuangan dilakukan terhadap salah satu unsur aktiva, kewajiban, dan ekuitas pada satu sisi tertentu akan diimbangi dengan pencatatan pada unsur aktiva, kewajiban, dan ekuitas yang berbeda pada sisi yang lain. Dengan kata lain, setiap transaksi harus dicatat minimal pada dua unsur pencatatan akuntansi (aktiva, kewajiban, dan ekuitas) yang berbeda dengan jumlah yang sama.

Diposkan pada Laporan Keuangan

PENGERTIAN DAN UNSUR-UNSUR NERACA (BALANCE SHEET)

Neraca adalah daftar yang memuat susunan aktiva, utang, dan modal pada saat tertentu. Neraca dapat disebut sebagai daftar yang memuat posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu. Dari neraca akan dapat diketahui berapa kekayaan yang dimiliki perusahaan dan segala kewajiban yang harus dipenuhi perusahaan. Unsur-unsur neraca sebagai berikut.

  1. Aktiva (Assets)

Aktiva adalah semua kekayaan yang dimiliki perusahaan dan memberikan manfaat ekonomis di masa yang akan datang. Aktiva dapat dikelompokkan menjadi beberapa jenis, antara lain sebagai berikut.

1.1 Aktiva lancar

Yang termasuk aktiva lancar antara lain

  • Kas (cash)
  • Surat berharga (markatble securities)
  • Piutang wesel/wesel tagih (notes receivable)
  • Piutang dagang (account receivable)
  • Perlengkapan/bahan habis pakai (supplies)
  • Persediaan barang (merchandise inventory)
  • Beban dibayar dimuka (prepaid expense), misalnya, sewa dibayar dimuka
  • Pendapatan yang masih harus diterima (accrued revenue), misalnya bunga yang diterima/piutang bunga

1.2 Investasi jangka panjang (long term investment)

Yang termasuk investasi jangka panjang antara lain

  • Ivestasi dalam saham (investment in stock)
  • Investasi dalam obligasi (investment in bond)

1.3 Aktiva tetap berwujud (tangible fixed assets)

Yang termasuk aktiva tetap berwujud antara lain

  • Peralatan (equipment)
  • Mesin (machinery)
  • Tanah (land)
  • Gedung (building)

1.4 Aktiva tetap tak berwujud (intangible fixed assets)

Yang termasuk aktiva tetap tak berwujud antara lain

  • Merek dagang
  • Hak paten
  • Hak cipta
  • Franchise

1.5 Aktiva lain-lain (other assets)

Yang termasuk aktiva lain-lain antara lain

  • Bangunan dalam proses penyelesaian
  • Klaim pada perusahaan asuransi

 

  1. Utang/kewajiban (liabilities)

Utang adalah semua kewajiban perusahaan yang harus dipenuhi kepada pihak lain di masa yang akan datang. Utang dapat dikelompokkan menjadi 3, sebagai berikut.

2.1 Utang lancar (current liabilities)

Yang termasuk utang lancar antara lain

  • Wesel bayar/utang wesel (notes payable)
  • Utang dagang (account payable)
  • Pendapatan diterima dimuka (deferred renue), misalnya sewa diterima dimuka
  • Beban yang masih harus dibayar (accrued expense), misalnya utang gai dna utang pajak

2.2 Utang jangka panjang (long term debt)

Yang termasuk utang jangka panjang antara lain

  • Utang hipotik (mortgage payable)
  • Utang obligasi (bond payable)
  • Utang wesel jangka panjang

2.3 Utang lain-lain (other liabilities)

Yang termasuk utang lain-lain antara lain

  • Utang garansi
  • Utang lain-lain

 

  1. Modal

Modal adalah kewajiban perusahaan yang harus dipenuhi kepada pemilik perusahaan. Penyajian modal dalam neraca harus disesuaikan dengan bentuk hukum perusahaan.

a. Perusahaan Perseorangan

Pada perusahaan perseorangan, setoran modal akan dicatat pada akun modal. Adapun untuk pengambilan pribadi untuk sementara akan dicatat pada akun prive, yang pada akhirnya dipindahkan ke akun modal. Di dalam neraca, yang disajikan hanya akun modal (akhir) dengan menyebutkan nama pemiliknya. Pada akun modal untuk perusahaan perseorangan akan dijumpai akun, seperti modal tuan arief dan prive tuan arief.

b. Firma/CV

Pada bentuk perusahaan firma, setoran modal akan dicatat pada akun modal dengan menyebutkan nama masing-masing anggota. Adapun untuk pengambilan pribadi untuk sementara akan dicatat pada akun prive dari masing-masing anggota, pada akhirnya dipindahkan ke akun modal. Pada akun modal untuk perusahaan firma akan dijumpai akun sebagai berikut.

3.2.1 modal tuan arief

3.2.2 prive tuan arief

3.2.3 modal tuan gumilang

3.2.4 prive tuan gumilang

c. Perseroan Terbatas

Pada akun modal untuk perusahaan perseroan akan dijumpai akun sebagai berikut.

3.3.1 modal saham

3.3.2 agio/disagio

3.3.3 laba ditahan

3.3.4 cadangan

3.3.5 modal donasi

3.3.6 modal penilaian kembali

d. Koperasi

Pada akun modal untuk perusahaan koperasi akan dijumpai akun sebagai berikut.

3.4.1 simpanan pokok

3.4.2 simpanan wajib

3.4.3 cadangan

3.4.4 modal donasi

3.4.5 SHU yang belum dibagi

Pada koperasi, simpanan sukarela dan SHU yang sudah dibagikan akan disajikan dalam kelompok utang.

Neraca dapat disajikan dalam bentuk skontro/horisontal dan staffel/vertikal/laporan.

Pada bagian berikut akan disajikan bentuk-bentuk neraca secara sederhana.

Neraca bentuk skontro/horizontal

neraca 1

Neraca bentuk vertikal/laporan

neraca 2

Diposkan pada Laporan Keuangan

LAPORAN PERUBAHAN MODAL (CAPITAL STATEMENT)

Laporan perubahan modal adalah laporan yang memuat terjadinya perubahan modal selama periode tertentu. Modal awal yang dimiliki perusahaan perseorangan akan berubah dengan adanya transaksi yang menyebabkan timbulnya laba atau rugi. Di samping itu, modal akan berubah dengan adanya setoran modal tambahan dari pemilik, adanya pengurangan modal dari pemilik, dan pengambilan aktiva perusahaan untuk keperluan pribadi (prive). Unsur laporan perubahan modal terdiri atas sebagai berikut:

  1. Modal awal;
  2. Laba bersih atau rugi bersih;
  3. Setoran modal tambahan;
  4. Pengambilan prive;
  5. Modal akhir.

Sebagai gambaran, salon Nira yang dimiliki oleh Ibu Nira memiliki modal awal sebesar Rp50.000.000,00. Dalam tahun 2010 usaha tersebut memperoleh laba bersih sebesar Rp18.000.000,00. Dalam tahun 2010 Ibu Nira menambah modal usahanya dengan menyetor uang tunai Rp20.000.000,00. Pengambilan pribadi selama tahun 2010 sebesar Rp3.000.000,00.

Adapun bentuk laporan perubahan modal (untuk perusahaan perseorangan) akan tampak seperti berikut.

laporan perubahan modal perorangan

Adapun pada bentuk perusahaan Perseroan Terbatas  (PT), laporan perubahan modal disebut sebagai laporan laba tak dibagi (retained earning statement). Bentuk laporannya akan tampak seperti berikut.

laporan perubahan modal pt

Diposkan pada Laporan Keuangan

PENGERTIAN DAN CONTOH LAPORAN LABA RUGI

Laporan Laba Rugi (Income Statement)

Laporan laba rugi adalah laporan yang memuat semua pendapatan dan beban selama periode tertentu.

Unsur laporan laba rugi perusahaan jasa terdiri atas sebagai berikut.

  1. Pendapatan atau penjualan jasa.
  2. Beban usaha.
  3. Pendapatan dan beban diluar usaha.
  4. Pos-pos luar biasa.
  5. Laba bersih sebelum pajak.
  6. Pajak penghasilan.
  7. Laba bersih setelah pajak.

Unsur laporan laba rugi perusahaan dagang terdiri atas sebagai berikut.

  1. Penjualan bersih.
  2. Harga pokok penjualan.
  3. Laba kotor.
  4. Beban usaha :
  • Beban penjualan
  • Beban administrasi dan umum
  1. Pendapatan dan beban diluar usaha.
  2. Pos-pos luar biasa.
  3. Laba bersih sebelum pajak.
  4. Pajak penghasilan.
  5. Laba bersih setelah pajak.

Catatan

  1. Pendapatan diluar usaha adalah pendapatan yang diperoleh atau beban yang dikeluarkan bukan dari usaha pokok. Misalnya, beban bunga, pendapatan bunga, serta laba penjualan aktiva yang tidak terpakai.
  2. Pos-pos luar biasa adalah pendapatan dan beban yang jarang terjadi dan tidak dapat diduga terjadinya. Misalnya, rugi karena kecurian dan rugi karena kebakaran.

Laporan laba rugi dapat disajikan dalam dua bentuk, yaitu bertahap (multiple step) dan bentuk satu tahap (single step).

Laporan laba rugi perusahaan jasa dalam bentuk bertahap (multiple step)

laporan laba rugi salon dora

Laporan laba rugi perusahaan jasa dalam bentuk satu tahap (single step)

laporan laba rugi salon dora 2

Laporan laba rugi perusahaan dagang dalam bentuk multiple step

pd cahaya gabung

Laporan laba rugi perusahaan dagang (bentuk single step)

pd cahaya 3

 

 

Diposkan pada Laporan Keuangan

PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN

PENGERTIAN LAPORAN KEUANGAN

Laporan keuangan merupakan informasi keuangan yang dihasilkan dari aktivitas akuntansi. Laporan keuangan berguna bagi berbagai pihak yang berkepentingan dengan keberlangsungan perusahaan, guna membantu mereka dalam mengambil keputusan ekonomi yang berkaitan dengan perusahaan. Berdasarkan laporan keuangan, pihak pemakai dapat menilai kondisi keuangan perusahaan, mengukur kinerja, dn menetahui prospek perusahaan di masa mendatang.

laporan keuangan

Berbagai pihak yang berkepentigan dengn laporan keuangan perusahaan, meliputi pemilik, kreditur, investor, pemerintah, karyawan, dan manajemen. Oleh karena pemakai laporan keuangan yang berbeda-beda dengan kepentingan yang berbeda pula, penyusunan laporan keuangan harus bersifat umum dan tidak memihak (general purpose statement). Penyusunan laporan keuangan harus berpedoman pada prinsip-prinsip akuntansi yang diterima umum (Generally Accepted Acounting Principles). Di indonesia, pedoman umum untuk menyusun laporan keuangan (khususnya untuk perusahaan yang akan go public) adalah Prinsip Akuntansi Indonesia 1984 (PAI 1984) yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dan Standard Khusus Akuntansi sebagai pernyataan PAI. Mulai tahun 1995 pedoman untuk penyusunan laporan keuangan menggunakan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).

meeting

Laporan Keuangan yang harus disusun oleh perusahaan secara umum, antara lain sebagai berikut.

  1. Laporan laba rugi (income statement).
  2. Laporan perubahan ekuitas (capital statement) atau laporan laba ditahan (retained earning).
  3. Neraca (balance sheet).
  4. Laporan perubahan posisi keuangan (change position statement) atau laporan arus kas.
  5. Catatan atas laporan keuangan.